Bolaang Mongondow — Konflik antara warga dan korporasi di sektor tambang kembali memanas. Puluhan warga Desa Lolan Dua, Kecamatan Bolaang Timur, nekat memblokade total akses jalan menuju area operasional PT Gading Murni Perkasa. Aksi ini bukan sekadar protes biasa—melainkan sinyal keras atas dugaan pelanggaran komitmen yang berpotensi menyeret persoalan ke ranah hukum.
Blokade Total, Aktivitas Perusahaan Lumpuh
Pantauan di lokasi menunjukkan jalan utama ditutup menggunakan batang bambu, kayu, dan spanduk bernada tegas. Tidak ada satu pun kendaraan perusahaan yang bisa melintas. Aktivitas operasional praktis lumpuh total.
Warga menyebut aksi ini sebagai “jalan terakhir” setelah komunikasi dengan pihak perusahaan dinilai buntu.
“Kami merasa dibohongi. Kesepakatan ada, tapi tidak dijalankan. Ini bukan lagi soal janji, ini soal pelanggaran,” tegas salah satu warga.
Dugaan Pelanggaran Kesepakatan: Bisa Masuk Ranah Hukum?
Berdasarkan informasi yang dihimpun, izin operasional perusahaan diduga lahir dari kesepakatan awal dengan masyarakat. Namun, warga menilai implementasinya tidak sesuai—baik dari sisi kontribusi sosial, transparansi, maupun dampak lingkungan.
Jika terbukti, kondisi ini berpotensi mengarah pada:
- Wanprestasi (ingkar janji)
- Pelanggaran izin lingkungan
- Potensi konflik sosial yang disengaja dibiarkan
Pakar hukum lingkungan menyebut, perusahaan bisa dikenai sanksi administratif hingga pidana jika terbukti melanggar komitmen berbasis persetujuan masyarakat.
Pemerintah Desa Disorot: Pembiaran atau Ketidakmampuan?
Sorotan tajam juga mengarah ke pemerintah desa. Sangadi dinilai gagal memainkan peran strategis sebagai mediator konflik.
“Kami tidak melihat keberpihakan. Seolah-olah dibiarkan,” ujar warga lain dengan nada kecewa.

Kondisi ini memunculkan dugaan:
- Lemahnya pengawasan lokal
- Potensi konflik kepentingan
- Minimnya transparansi dalam proses perizinan
Jika benar, hal ini membuka ruang penyelidikan lebih jauh terhadap tata kelola pemerintahan desa.
Potensi Eskalasi: Dari Blokade ke Konflik Terbuka
Aksi blokade yang berlangsung tanpa kehadiran aparat keamanan berisiko memicu konflik horizontal maupun vertikal. Hingga saat ini, belum ada langkah konkret dari pemerintah daerah maupun penegak hukum.
Situasi ini dinilai rawan:
- Bentrokan antara warga dan pihak perusahaan
- Kriminalisasi warga atau sebaliknya
- Meluasnya aksi ke wilayah lain
Jejak Operasi Perusahaan Mulai Dipertanyakan
Investigasi awal juga mengarah pada aktivitas perusahaan yang terus berjalan dalam skala besar, sementara manfaat bagi masyarakat dinilai minim.
Beberapa poin yang kini menjadi sorotan:
- Legalitas dan transparansi izin operasional
- Distribusi dana CSR
- Dampak lingkungan terhadap lahan dan sumber air warga
Hingga Kini: Semua Pihak Masih Bungkam
Sampai berita ini diterbitkan:
- PT Gading Murni Perkasa belum memberikan klarifikasi resmi
- Pemerintah desa belum mengeluarkan pernyataan
- Aparat penegak hukum belum terlihat turun tangan
Kebungkaman ini justru memperkuat kecurigaan publik bahwa ada persoalan yang lebih besar di balik konflik ini.
Catatan Redaksi (Investigasi Awal)
Kasus ini tidak bisa dilihat sebagai konflik biasa antara warga dan perusahaan. Ada indikasi kuat persoalan sistemik: lemahnya pengawasan, dugaan pengabaian hak masyarakat, hingga potensi pelanggaran hukum.
“Jika tidak segera ditangani secara transparan dan tegas, konflik ini berpotensi menjadi preseden buruk bagi pengelolaan sumber daya alam di daerah.”













